Selembar Kertas Tak Akan Mampu Mengamini Dua Takdir Yang Berlainan
9 Mei 2026Kutatap seksama kerutan carut marut ditelapak tanganku, meraba tiap lekuk garis mencari namamu yang sengaja diselundupkan oleh takdir hingga kita harus dipertemukan dalam keadaan sedemikian mustahil
Kita serupa sepasang sepatu yang melangkah kemanapun perjalanan membawa ; selalu bersama namun tak pernah beriringan, merasakan hasrat ingin berdua namun mustahil tanpa menciptakan luka
Kuremas dadaku, merasakan sebuah kenikmatan yang perih ketika menyadari bahwa kau adalah seluruh definisi tentang pulang, namun pintu rumahku telah lama dipaku mati oleh keadaan yang lahir jauh sebelum langkahmu sampai di pelataran. Meninggalkan aku sebagai gelandangan yang hanya bisa meratapi sisa-sisa abunya
Dunia tak akan pernah peduli betapa sesaknya kita oleh keinginan untuk menetap. la akan tetap memutar porosnya dengan egois, menyeret kita ke arah yang berlawanan tepat saat jemari kita nyaris saling bertautan. Kita terjebak dalam ruang tunggu yang abadi, memegang tiket menuju destinasi yang sama namun dengan tanggal keberangkatan yang saling berselisih satu abad
Aku akan terus berjalan membawa sisa aromamu di selimutku. Meniti bait-bait fakta bahwa kita hanyalah sebuah mahakarya yang tak akan pernah dipamerkan di museum kota. Sesuatu yang indah, dan sepenuhnya milik waktu yang salah