Kumpulan Puisi

Kata-kata yang tersimpan dalam sunyi

Selembar Kertas Tak Akan Mampu Mengamini Dua Takdir Yang Berlainan

9 Mei 2026

Kutatap seksama kerutan carut marut ditelapak tanganku, meraba tiap lekuk garis mencari namamu yang sengaja diselundupkan oleh takdir hingga kita harus dipertemukan dalam keadaan sedemikian mustahil

Kita serupa sepasang sepatu yang melangkah kemanapun perjalanan membawa ; selalu bersama namun tak pernah beriringan, merasakan hasrat ingin berdua namun mustahil tanpa menciptakan luka

Kuremas dadaku, merasakan sebuah kenikmatan yang perih ketika menyadari bahwa kau adalah seluruh definisi tentang pulang, namun pintu rumahku telah lama dipaku mati oleh keadaan yang lahir jauh sebelum langkahmu sampai di pelataran. Meninggalkan aku sebagai gelandangan yang hanya bisa meratapi sisa-sisa abunya

Dunia tak akan pernah peduli betapa sesaknya kita oleh keinginan untuk menetap. la akan tetap memutar porosnya dengan egois, menyeret kita ke arah yang berlawanan tepat saat jemari kita nyaris saling bertautan. Kita terjebak dalam ruang tunggu yang abadi, memegang tiket menuju destinasi yang sama namun dengan tanggal keberangkatan yang saling berselisih satu abad

Aku akan terus berjalan membawa sisa aromamu di selimutku. Meniti bait-bait fakta bahwa kita hanyalah sebuah mahakarya yang tak akan pernah dipamerkan di museum kota. Sesuatu yang indah, dan sepenuhnya milik waktu yang salah

Hanya Berdua

16 Maret 2026

Hanya berdua saja waktu itu
Hardik gerimis dengan serapah nakalmu
Tak lama, gerimis mengamuk datangkan butiran jatuh
Membawa aku dan kamu dipersimpangan tak berujung

Apakah kamu ingin berteduh?
tanyamu waktu itu
Akupun mengangguk mau dan ingin hentikan waktu
Hanya ada kita dan malam kelabu

-2019

Berdua Saja

16 Maret 2026

Kita berdua saja duduk
Aku memungut seonggok rasa
Kau entah sedang memungut apa
Aku memesan sebuah jawaban
Kau entah akan menyajikan apa
Tapi kita tetap berdua saja
Dalam pikiran yang entah kemana

-2018

Kisah Pemuja Malam

16 Maret 2026

Awan remang
Atapi pemuja malam
Naungi rindu dengan bayangan
Hangatkan rasa dengan seadanya

Bisa apakah dia?
Salam sayang yang membisu
Berkata rindu saja tak mampu
Hanya remang lalu kelabu

-2018

Afeksi

15 Maret 2026

Afeksi datang tanpa suara
seperti angin yang menyentuh kulit tanpa diminta
Ia tidak selalu besar dan megah
kadang hanya hadir sebagai perhatian kecil yang setia

Dalam tatapan yang diam-diam peduli
dalam pesan singkat yang menanyakan hari
afeksi tumbuh pelan seperti pagi
hangat, sederhana, namun berarti

Ia bukan sekadar kata “cinta”
melainkan rasa yang memilih tinggal
Di antara jarak, waktu, dan luka
afeksi tetap menemukan jalan untuk pulang

-2020

Lilin

15 Maret 2026

Ini hanyalah sesuatu
Yang datang dikala dukamu
Terangi laramu
Agar hangat rasamu

Tidak penting memang
Namun hadirku
Apa terasa nyata bagimu?
Sepucuk api tinggalkan bayang
Sekarang redup lupakan empunya